Home|Hubungi|Lokasi
Atase Pendidikan dan Kebudayaan (Atdikbud) KBRI New Delhi, India, dan Lembaga Studi Realino bekerjasama dengan Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat Universitas Sanata Dharma (LPPM-USD) menga
Profil Kegiatan Beasiswa Publikasi Fasilitas Galeri Berita
Search
SUKSES(i) PENGUASA Menyadur Kuasa Sastra Wayang PRASTHANIKAPARWA
Y. APRIASTUTI RAHAYU, A. WINDARTO, A. HARIMURTI
Sinopsis
Yang tertua dari kelima Pendawa adalah Prabu Yudistira. Dialah tipe murni Raja yang Baik. Darah putih mengaliri nadinya. Tak pernah dia murka, tak pernah dia bertarung, tak pernah juga dia menolak permintaan siapa pun, betapapun rendahnya sang peminta. Waktunya dilewatkan untuk meditasi dan penghimpunan kebijakan. Tak seperti satria yang lain, yang pusaka saktinya berupa senjata, pusaka andalah Yudistira adalah Kalimasada yang misterius, naskah keramat yang memuat rahasia agama dan semesta. Dia, pada dasarnya, adalah cendekiawan tanpa pamrih, yang memerintah dengan keadilan sempurna dan kemurahhatian yang luhur. Dengan kenampakan yang sama sekali tanpa perhiasan mencolok, dengan kepala merunduk yang mawas diri, dan raut muka keningratan yang halus, dia tampil sebagai gambaran ideal tentang Pandita Ratu (Raja Pendeta) yang telah menyingkirkan nafsu dunia. Benedict R.O’G. Anderson, Mitologi dan Toleransi Orang Jawa, Yogyakarta: Jejak, 1965/2003, hal. 27-28.
 
Bila berminat silahkan kontak:
realinousd@gmail.com
Tlp: (0274) 565751
(IN) TOLERANSI WAYANG UNTUK KUASA HASRAT RAKYAT INDONESIA
Y. APRIASTUTI RAHAYU
Sinopsis
Berbeda dengan jejak-langkah beberapa negara Asia Tenggara seperti Thailand dan Kamboja yang sebenarnya juga dipengaruhi sastra Sansekerta, Indonesia, khususnya Jawa, mampu melestarikan suatu jenis kesusasteraan yang ditulis dalam bahasa lokal – Jawa Kuno – yang membuat masyarakat terbiasa berpandangan luas dan aneka ragam. Kreativitas sastra maupun minat menikmati kesusasteraan Jawa menjadi syarat penting untuk meloloskan dan menyelamatkan masyarakat dari kehancuran akibat peperangan-peperangan yang mudah terjadi. Kekhususan sastra Jawa adalah memberi dasar agar lebih bersiap untuk berjuang dan menjadi tetap tangguh.
 
                           P.J. Zoetmulder (1906-1995)
                           Kalangwan: Sastra Jawa Kuna Selayang Pandang
                           Seri ILDEP, Jakarta: Penerbit Djambatan, 1983/1994, hal.20.
                                                     
Per-cakap(!)-an tentang nilai, sikap dan tindakan toleransi bukan nostalgia, kebanggaan elok masa lalu belaka, tetapi perlu berangkat dari sebuah keyakinan naluriah bahwa sikap dan bertindak toleran dalam semua komunitas manusiawi adalah sebuah perkara yang sangat rapuh. Khususnya toleransi yang tidak abai terhadap ketidak-sesuaian yang sesungguhnya tidak langsung mengancam atau menohok hidup kita sehari-hari. Toleransi sepantasnya mengalir dari sebuah penghargaan untuk keragaman manusiawi dan kepribadian setiap orang.
 
                            Benedict Anderson (1936-2015)
                            Mitologi dan Toleransi Orang Jawa
                            Yogyakarta: Jejak, 1965/2003, hal. 71.
 
Bila berminat silahkan kontak:
realinousd@gmail.com
Tlp: (0274) 565751
                           
MENJADI (TIONGHOA)
BudiSusanto, S.J dkk
Sinopsis

Bagi Oom Sio, Frederik Parluhutan, bercerita dan menulis tentang masa lalu warga peranakan Tionghoa dalam bentuk fiksi sejarah ― Nanyang dan Ranting ― membuatnya nyaman untuk mendukung para pembaca, sesama warga negara bangsa Indonesia dalam memperkembangkan nasionalisme. Belajar dari Opa Kwee yang sempat mempunyai nama penulis Tjamboek Berdoeri, James Siegel, antropolog dan pemerhati Indonesia menganggap mendesak dan penting untuk terus menikmati karya-karya sastrawi para penulis Indonesia sejenis itu. Menurut Siegel, buku-buku: Indonesia dalem Api dan Bara (2004) dan Menjadi Tjamboek Berdoeri (2010), sebagai cerita dan cita-cita Opa Kwee membuat pembaca tetap tidak abai dengan masa lalu bangsanya; untuk tidak selalu mengandalkan kontrol atas massa rakyat sebagai pembenaran hasrat berkuasa. Tulisan Oom Sio berdasar kosmopolitanisme di Sumatra Utara dalam buku ini kurang lebih mirip paparan Opa Kwee tentang masa lalu Jawa Timur. Sesudah tujuh-puluh tahun proklamasi kemerdekaan Indonesia (1945-2015), kemiripan tersebut berkelanjutan. Syukurlah, Indonesia menyediakan sebuah bahasa bersama ― lingua franca ― yang mempunyai daya kuasa hasrat untuk “tidak saling mencerminkan dan tidak saling menyebabkan rikuh” (Siegel, 2009, SADUR) karena bahasa itu bukan milik salah satu dari ratusan bahasa ibu dari wilayah Sabang sampai Merauke. Hakekat (budi)bahasa bukan sekadar mengejar berkata-kata tanpa ujung janji makna, tetapi menyediakan peluang bergerak menghadapi hasrat berkuasa yang tidak jarang abai tentang sesama.


1 - 2 - 3 - 4 - 5 kanan
(IN) TOLERANSI WAYANG UNTUK KUASA HASRAT RAKYAT INDONESIA
Y. APRIASTUTI RAHAYU (editor)
28 Juni 2017 | 21:47 WIB
SRIWIJAYA DAN MASYARAKAT BHINEKA
Atase Pendidikan dan Kebudayaan (Atdikbud) KBRI New
4 April 2017 | 13:30 WIB
Menjadi Guru Nasionalis
PPG SM-3T adalah program dari Kemristek Dikti yg bertujuan
10 Maret 2017 | 09:00 WIB
Keberatan Harus Ada Bukti Kuat
Harianjogja.com, JOGJA-Ketua Komisi Pemilihan Umum
10 Maret 2017 | 08:52 WIB
Penetapan Walikota Terpilih Tertunda
Harianjogja.com, JOGJA — Penetapan wali kota Jogja
20 Januari 2017 | 11:12 WIB
LPPM USD dan LSR Gelar Konferensi Internasional “Reviving Ben Anderson”
Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat
4 November 2016 | 09:28 WIB
Converence On Reviving BENEDICT ANDERSON Imagined (Cosmopolitan) Communities
In his necrology (The Jakarta Post & The New York Times),
Home | Profile | Aktifitas Realino | Beasiswa | Lokasi | Hubungi Kami | Publikasi | Fasilitas | Berita
Copyright © 2008 Lembaga Study Realino, All Right Reserved.